Rumah
ibadah orang Tionghoa di Indonesia disebut Kelenteng. Kelenteng adalah kata
dari Guan Yin Ting atau rumah ibadah Guan Yin (Lombart dan Salmon, 1985:
10). Menurut Ezerman kata kelenteng
dating dari suara lonceng yang datang dari kelenteng ketika ada upacara (Ezerman
1922). Kelenteng is the centre of Chinese community and the centre of Chinese
cultural activity. Kelenteng merupakan pusat komunitas dan aktivitas budaya
serta keagamaan orang Tionghoa. Ada 70 kelenteng di Jakarta tersebar di semua
wilayah, ini memperlihatkan partisipasi orang Tionghoa sebagai bagian penghuni
kota.
Tulisan
tentang kelenteng di Jawa tersebar di beberapa naskah yang terfokus pada
masalah ritual, epigrafi, iconografi dan sejarah komunitas Tionghoa. Tulisan
tertua tentang kelenteng dibuat oleh ilmuwan barat I.W.Young dengan judul: Sam Po Tong La Grotte de Sam Po. Artikel ini ditertibkan
di jurnal Tung Pao 1890 .
Young
mendeskripsikan sejarah Chengho yang didewakan di kelenteng Gedong Batu di
Semarang. Dia tidak menceritakan arsitektur kelenteng, tetapi mendeskripsikan
manuskrip didalam kelenteng. Menurut Liem Thian Joe, kelenteng ini diperlebar
tahun 1724 dengan dibangunnya pavilion (Liem 1933: 20). Kelenteng yang semula
adalah gua telah ditutup bangunan. Arsitektur bangunannya berbeda dengan
arsitektur kelenteng yang lain. Young tidak menyebutkan pelebaran kelenteng
ini. Sekarang semua ini telah tiada karena diubah secara total, bangunan baru
dibangun sebagai gantinya.
Adalah
Ezerman, yang menulis tentang arsitektur kelenteng Tay Kak Sie di Ceribon, mendeskripsikan
detail arsitektur kelenteng dan menariknya dia membandingkan dengan kelenteng
di Tiongkok. Dia juga mendeskripsikan lukisan di dinding kelenteng dan
inkripsinya. Bagi dia kelenteng Tay Kek Sie memang indah, tetapi kelenteng di
Tiongkok lebih indah. Dia tidak menulis arti dibalik ruang dan konfigurasi
bentuk dari kelenteng (Ezerman, 1922). Buku yang mengkompilasi kelenteng di
jawa dan beberapa di luar Jawa ditulis oleh astrologer Empeh Wong Kam Fu. Karena
pada waktu itu, Zaman Orde Baru, kebudayaan Tionghoa kebudayaan Tionghoa
dilarang, pernerbit harus minta ijin dari kepolisian. Buku ini tebalnya 365
halaman, tetapi 139 halaman tentang Konfusius dan Budha yang ditulis dalam semangat
Ketuhanan yang Maha Esa sesuai dengan Pancasila. Wong mengkoleksi 63 kelenteng
dan 32 lithang. Lithang adalah hall bagi pengikut konfusius. Ruangan ini
biasanya ditempatkan di bangunan baru yang kurang dari 50 tahun. Tetapi ada
juga Lithang di kelenteng tua. Disamping Wong menjelaskan dewa dan dewi
kelenteng, dia juga menulis fungsi ruang di dalam kelenteng. Karena Wong
menulis banyak kelenteng, dia tiadak menjelaskan kelenteng secara detail.
Ada
juga buku yang dipublikasikan tahun 1986 sebagai peringatan ulang tahun
kelenteng Tay Kak Sie di Semarang yang ke 240 tahun, dimana ada dewa dan dewi
yang biasanya dipuja di Jawa. Buku ini menfokuskan pada kelenteng Tay Kak Sie
di Semarang, dan mengutip sejarah permukiman Tionghoa di Semarang dari bukunya Liem
Thiam Joe.

No comments:
Post a Comment