Di
sebut toko merah karena dulu kusennya berwarna merah. Bukan hanya kusennya yang berwarna merah,
mebel yang ada didalamnya juga berwarna merah. Warna merah ini merupakan ciri
ke Tionghoaan seperti hal kelenteng. Karena semuanya berwarna merah dan
fungsinya sebagai toko, maka dinamai Toko Merah. Rumah ini di pertengahan abad
ke 19 di miliki oleh Oey Liaw Kong. Dia membuka toko di sebelah Kali Besar yang
pada waktu itu masih ramai sebagai urat nadi perdagangan. Warna merah bata baru
di tambahkan pada tahun 1923 ketika bangunan ini dimiliki dan dipakai oleh Bank
Voor Indie. Kalau kita melihat tampak bangunan ini sekarang, terdapat tulisan
Toko Merah di depan, ini adalah tulisan yang baru. Demikian pula dengan
kusen-kusennya, sekarang sudah tidak berwarna merah tetapi coklat dengan
pinggir warna emas.
Bangunan
ini dibangun pada tahun 1730 oleh Gustaff Willem Baron van Imhoff sebelum
menjadi gubernur jendral VOC. Kemudian juga pernah menjadi milik putri Gubernur
Jendral Mossel, Philippine Theodora. Karena umurnya yang sangat tua, gedung ini
terasa angker. Apalagi ada cerita bahwa rumah ini pernah menjadi tempat
persembunyian orang Tionghoa untuk menghindari pembantaian tahun 1740. Mengenai
cerita yang terakhir ini meragukan, tetapi itulah cerita-cerita angker tentang
Toko Merah
Bangunan
ini di pengaruhi oleh arsitektur Belanda di awal abad 18 dengan jendela
besar-besar dan kaca kotak-kotak kecil. Jendelanya merupakan jendela geser
keatas seperti rumah-rumah Belanda jaman dulu. Pintu depan dan tengah juga
tinggi-tinggi.
Kalau
kita masuk kedalam toko merah, yang kita temui adalah bangunan kosong karena
mebelnya yang antik sudah dipindah ke pelbagai museum di Jakarta. Sedang tangga
dari lantai dua ke atas ditutup oleh pemilik karena lantai atas merupakan
tempat penyiksaan. Di lantai dua bagian belakang Toko Merah terdapat
pintu-pintu yang lebar tetapi rendah.
Dibagian
belakang Toko Merah merupakan halaman terbuka yang luas. Dulu mungkin merupakan
tempat pelayan karena rumah ini merupakan rumah mewah didalam benteng Batavia.
Lapangan terbuka ini menjadi halaman dalam yang terasa sangat privat. Sayang
bangunan di sekelilingnya sudah baru dan tidak ada peninggalan jaman dulu.
Selain
interiornya yang sangat luas dan tidak memiliki mebel, di sisi utara lantai
satu terdapat beberapa loket untuk transaksi keuangan. Dibagian belakang lantai
dua terdapat bekas tempat penyimpanan uang atau safe deposit box. Gedung ini
mengalami pemugaran di tahun 1923 tatkala ditempati oleh Bank Voor Indie.
Bekas
rumah dari Van Imhoff ini di bangun 1730, berarti satu abad setelah bagian
barat Batavia di bangun. Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana bentuk rumah
ini sebelum 1730? Tidak diketahui. Hanya saja kalau kita masuk kedalam rumah
ini terasa aneh karena merupakan dua rumah yang digabungkan. Mungkinkah sebelum
1730 merupakan dua rumah-toko seperti rumah-rumah lain di Batavia yang kemudian
digabung dan di pugar oleh Van Imhoff?
Selain
pengaruh Eropa ada juga pengaruh Tiongkok mungkin kontraktor bangunan di
Batavia kuno adalah Tionghoa. Pengaruh itu terlihat dari wuwungan yang sejajar
dengan jalan berbeda dengan rumah-rumah di Amsterdam yang tegak lurus. Menurut
fengsui, wuwungan yang tegak lurus dengan jalan membawa sial. Sehingga orang
Tionghoa selalu membangun rumah dengan wuwungan yang sejajar dengan jalan.
Toko
merah merupakan obyek yang menarik bagi mahasiswa arsitektur untuk ditulis
sebagai tesis atau disertasi. Disamping bentuk dan ruang yang tercipta juga
sejarah bangunan ini merupakan awal dari penelitian sejarah arsitektur di
Indonesia, sayang kalau tidak diteliti dengan baik.

No comments:
Post a Comment