Tuesday, January 27, 2015

Tulisan Tentang Kelenteng



Rumah ibadah orang Tionghoa di Indonesia disebut Kelenteng. Kelenteng adalah kata dari Guan Yin Ting atau rumah ibadah Guan Yin (Lombart dan Salmon, 1985: 10).  Menurut Ezerman kata kelenteng dating dari suara lonceng yang datang dari kelenteng ketika ada upacara (Ezerman 1922). Kelenteng is the centre of Chinese community and the centre of Chinese cultural activity. Kelenteng merupakan pusat komunitas dan aktivitas budaya serta keagamaan orang Tionghoa. Ada 70 kelenteng di Jakarta tersebar di semua wilayah, ini memperlihatkan partisipasi orang Tionghoa sebagai bagian penghuni kota.



Tulisan tentang kelenteng di Jawa tersebar di beberapa naskah yang terfokus pada masalah ritual, epigrafi, iconografi dan sejarah komunitas Tionghoa. Tulisan tertua tentang kelenteng dibuat oleh ilmuwan barat I.W.Young dengan judul: Sam Po Tong La Grotte de Sam Po. Artikel ini ditertibkan di jurnal Tung Pao 1890 .

Young mendeskripsikan sejarah Chengho yang didewakan di kelenteng Gedong Batu di Semarang. Dia tidak menceritakan arsitektur kelenteng, tetapi mendeskripsikan manuskrip didalam kelenteng. Menurut Liem Thian Joe, kelenteng ini diperlebar tahun 1724 dengan dibangunnya pavilion (Liem 1933: 20). Kelenteng yang semula adalah gua telah ditutup bangunan. Arsitektur bangunannya berbeda dengan arsitektur kelenteng yang lain. Young tidak menyebutkan pelebaran kelenteng ini. Sekarang semua ini telah tiada karena diubah secara total, bangunan baru dibangun sebagai gantinya.

Adalah Ezerman, yang menulis tentang arsitektur kelenteng Tay Kak Sie di Ceribon, mendeskripsikan detail arsitektur kelenteng dan menariknya dia membandingkan dengan kelenteng di Tiongkok. Dia juga mendeskripsikan lukisan di dinding kelenteng dan inkripsinya. Bagi dia kelenteng Tay Kek Sie memang indah, tetapi kelenteng di Tiongkok lebih indah. Dia tidak menulis arti dibalik ruang dan konfigurasi bentuk dari kelenteng (Ezerman, 1922). Buku yang mengkompilasi kelenteng di jawa dan beberapa di luar Jawa ditulis oleh astrologer Empeh Wong Kam Fu. Karena pada waktu itu, Zaman Orde Baru, kebudayaan Tionghoa kebudayaan Tionghoa dilarang, pernerbit harus minta ijin dari kepolisian. Buku ini tebalnya 365 halaman, tetapi 139 halaman tentang Konfusius dan Budha yang ditulis dalam semangat Ketuhanan yang Maha Esa sesuai dengan Pancasila. Wong mengkoleksi 63 kelenteng dan 32 lithang. Lithang adalah hall bagi pengikut konfusius. Ruangan ini biasanya ditempatkan di bangunan baru yang kurang dari 50 tahun. Tetapi ada juga Lithang di kelenteng tua. Disamping Wong menjelaskan dewa dan dewi kelenteng, dia juga menulis fungsi ruang di dalam kelenteng. Karena Wong menulis banyak kelenteng, dia tiadak menjelaskan kelenteng secara detail.

Ada juga buku yang dipublikasikan tahun 1986 sebagai peringatan ulang tahun kelenteng Tay Kak Sie di Semarang yang ke 240 tahun, dimana ada dewa dan dewi yang biasanya dipuja di Jawa. Buku ini menfokuskan pada kelenteng Tay Kak Sie di Semarang, dan mengutip sejarah permukiman Tionghoa di Semarang dari bukunya Liem Thiam Joe.

Toko merah



Di sebut toko merah karena dulu kusennya berwarna merah.  Bukan hanya kusennya yang berwarna merah, mebel yang ada didalamnya juga berwarna merah. Warna merah ini merupakan ciri ke Tionghoaan seperti hal kelenteng. Karena semuanya berwarna merah dan fungsinya sebagai toko, maka dinamai Toko Merah. Rumah ini di pertengahan abad ke 19 di miliki oleh Oey Liaw Kong. Dia membuka toko di sebelah Kali Besar yang pada waktu itu masih ramai sebagai urat nadi perdagangan. Warna merah bata baru di tambahkan pada tahun 1923 ketika bangunan ini dimiliki dan dipakai oleh Bank Voor Indie. Kalau kita melihat tampak bangunan ini sekarang, terdapat tulisan Toko Merah di depan, ini adalah tulisan yang baru. Demikian pula dengan kusen-kusennya, sekarang sudah tidak berwarna merah tetapi coklat dengan pinggir warna emas.


Bangunan ini dibangun pada tahun 1730 oleh Gustaff Willem Baron van Imhoff sebelum menjadi gubernur jendral VOC. Kemudian juga pernah menjadi milik putri Gubernur Jendral Mossel, Philippine Theodora. Karena umurnya yang sangat tua, gedung ini terasa angker. Apalagi ada cerita bahwa rumah ini pernah menjadi tempat persembunyian orang Tionghoa untuk menghindari pembantaian tahun 1740. Mengenai cerita yang terakhir ini meragukan, tetapi itulah cerita-cerita angker tentang Toko Merah   
Bangunan ini di pengaruhi oleh arsitektur Belanda di awal abad 18 dengan jendela besar-besar dan kaca kotak-kotak kecil. Jendelanya merupakan jendela geser keatas seperti rumah-rumah Belanda jaman dulu. Pintu depan dan tengah juga tinggi-tinggi.
Kalau kita masuk kedalam toko merah, yang kita temui adalah bangunan kosong karena mebelnya yang antik sudah dipindah ke pelbagai museum di Jakarta. Sedang tangga dari lantai dua ke atas ditutup oleh pemilik karena lantai atas merupakan tempat penyiksaan. Di lantai dua bagian belakang Toko Merah terdapat pintu-pintu yang lebar tetapi rendah.
Dibagian belakang Toko Merah merupakan halaman terbuka yang luas. Dulu mungkin merupakan tempat pelayan karena rumah ini merupakan rumah mewah didalam benteng Batavia. Lapangan terbuka ini menjadi halaman dalam yang terasa sangat privat. Sayang bangunan di sekelilingnya sudah baru dan tidak ada peninggalan jaman dulu.
Selain interiornya yang sangat luas dan tidak memiliki mebel, di sisi utara lantai satu terdapat beberapa loket untuk transaksi keuangan. Dibagian belakang lantai dua terdapat bekas tempat penyimpanan uang atau safe deposit box. Gedung ini mengalami pemugaran di tahun 1923 tatkala ditempati oleh Bank Voor Indie.
Bekas rumah dari Van Imhoff ini di bangun 1730, berarti satu abad setelah bagian barat Batavia di bangun. Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana bentuk rumah ini sebelum 1730? Tidak diketahui. Hanya saja kalau kita masuk kedalam rumah ini terasa aneh karena merupakan dua rumah yang digabungkan. Mungkinkah sebelum 1730 merupakan dua rumah-toko seperti rumah-rumah lain di Batavia yang kemudian digabung dan di pugar oleh Van Imhoff?
Selain pengaruh Eropa ada juga pengaruh Tiongkok mungkin kontraktor bangunan di Batavia kuno adalah Tionghoa. Pengaruh itu terlihat dari wuwungan yang sejajar dengan jalan berbeda dengan rumah-rumah di Amsterdam yang tegak lurus. Menurut fengsui, wuwungan yang tegak lurus dengan jalan membawa sial. Sehingga orang Tionghoa selalu membangun rumah dengan wuwungan yang sejajar dengan jalan.
Toko merah merupakan obyek yang menarik bagi mahasiswa arsitektur untuk ditulis sebagai tesis atau disertasi. Disamping bentuk dan ruang yang tercipta juga sejarah bangunan ini merupakan awal dari penelitian sejarah arsitektur di Indonesia, sayang kalau tidak diteliti dengan baik.

Arsitektur Ruko Batavia



Di dalam tembok kota Batavia semua rumah-rumah nya adalah rumah toko dan rumah teras. Dari peta tahun 1733 tergambar dengan jelas bahwa semua rumah didalam tembok kota tidak memiliki halaman dan berbatasan langsung dengan Jalan. Ini menunjukan wilayah didalam tembok memiliki kepadatan yang tinggi. Itulah mengapa para pejabat VOC membangun rumah-rumah baru di sepanjang Molenvliet, sekarang dinamai jalan Gajah Mada dan Jalan Hayam Wuruk.


 Ruko di Batavia
Berbeda dengan rumah toko di Pecinan yang pintu bagian depan terbuka selebar toko, di Batavia ruko-ruko terdiri dari beberapa jendela dan pintu yang lebar. Mereka tidak membuka dagangan sampai mencapai jalan secara bertumpuk-tumpuk tidak beraturan, tetapi lebih rapi dan teratur. Di Roa Malaka, di atas pintu dan jendela rumah diberi hiasan kaca kotak-kotak kecil, mirip dengan rumah-rumah Belanda dijaman itu.  Ruko-ruko merekapun tidak sempit di depan dan memanjang kedalam. Banyak rumah yang lebar di bagian depan.
Dari gambar Josias Cornelis Rappard seorang Kolonel Infantri KNIL (tentara kerajaan Belanda) kita dapat melihat bahwa toko di Batavia lebar dan bahkan terbagi menjadi dua ruang. Toko tadi bukannya terbuka lebar ke Jalan tetapi façade toko memiliki beberapa jendela yang lebar. Interior tokonya juga ditata dengan baik dan teratur dibandingkan dengan ruko-ruko di Pecinan Glodok. Barang-barang yang di jualpun bukan barang dagangan seperti hasil-hasil bumi, tetapi porselen, jam dinding dan produk yang tidak mengotori lantai. Ini menunjukkan bahwa orang Belanda senang kerapian dan kebersihan toko.  Pakaian para pengunjung tokopun rapi dengan mengenakan jas dan dasi.
Kalau kita telusuri lebih lanjut, gaya rumah pada awal pembangunan Batavia disebelah timur Sungai Ciliwung dan pembangunan rumah di sebelah barat sungai, setelah sungai itu diluruskan, berbeda. Rumah-rumah di sebelah timur dibangun di jaman Jan Pieterszoon Coen lebih kearah campuran gaya Belanda dan Tionghoa. Tetapi pada waktu pembangunan rumah-rumah disebelah Barat Kali Besar, pemerintah Belanda ingin menghilangkan gaya arsitektur ketionghoaan. Rumah-rumah di Leuweenstraat di bagian Timur Batavia menunjukan campuran gaya arsitektur Tionghoa dan Belanda karena kontraktor dan tukangnya Tionghoa. Sedang rumah Gustaf von Imhoff yang berada di sebelah Barat Kali Besar, sama sekali tidak terlihat gaya ke-tionghoaan nya, bahkan bergaya sangat Eropa. Mengapa?
Pada waktu pembangunan bagian Barat Batavia, menurut Gubernur Jendral Hendrick Brouwer rumah-rumahnya kurang mencerminkan ke Eropaan dan akhirnya kontrak dengan kontraktor Jan Con di batal kan. Selang beberapa saat kemudian, pembangunan kota di lanjutkan lagi. Tetapi, gaya arsitekturnya benar-benar di kontrol tidak boleh “mengandung” gaya Tionghoa, harus dengan gaya arsitektur yang benar-benar Eropa. Jan Con adalah orang Tionghoa yang membawa aroma arsitektur Tionghoa sedang orang Belanda pengennya benar-benar rumah bergaya Belanda. Sayang kita tidak dapat memperolah data mengenai gaya rumah yang ada di sebelah Barat Kali Besar karena di bakar pada saat kerusuhan 1740, hanya bekas rumah Gustaf van Imhoff dan sebagian deretan ruko yang masih ada. Gambar-gambar rumah di Batavia yang kita dapati hanya dari Johannes Rach yang banyak melukis bagian-bagian Batavia di tahun 1760 atau setelah terjadi kerusuhan 1740. 
Yang masih tanda Tanya adalah: Bagaimana gaya arsitektur rumah Nie Hoe Kong, kapten Tionghoa ketika kerusuhan 1740?